Tembakau Deli, Tanaman Bersejarah Pendiri Kota Medan

0

Entah apa yang menggerakkan langkah kaki untuk bergerak menuju ke perkebunan ini, Jam 06.15 WIB Aku berangkat dari rumah menuju Helvetia. Walaupun lokasi yang hendak aku tuju tidak begitu pasti, namun hasrat keingintahuan yang begitu tinggi menuntun instingku kearah yang benar hingga aku menemukan gudang-gudang pengering daun Tembakau Deli ini.

Yah, Kota Medan menjadi kota metropolitan seperti saat ini tak terlepas dari sejarah kebesaran tembakau deli di abad ke 19 hingga awal abad ke 20.  Tepatnya ditahun 1863 dikala Jacobus Nienhuys seorang kewarganegaraan Belanda mendapat konsesi oleh kesultanan untuk membuat perusahaan Tembakau di tahun 1969, 6 tahun setelah kedatanganya di Indonesia. Perusahaan tersebut dikenal dengan nama Deli Maatschappij,

Siapa yang menyangka, ternyata tembakau deli diminati oleh pasar eropa, karena memiliki aroma dan cita rasa yang khas. Tak heran jika tembakau deli saat itu lebih mahal dari harga emas dan menjadi salah satu tembakau terbaik di dunia. Permintaan yang begitu tinggi hingga akhirnya investasi besar-besaran dating untuk membangun perusahaan tembakau deli ini. 

Dikutip dari Harian Kompas.com yang berjudul “Kegemilangan Tembakau Deli Yang Memudar”, Aufrida menulis pada tahun 1873 jumlah kebun tembakau deli baru 13 dan pada 1876 menjadi 40 kebun, pernyataan ini dikutip dari buku “Menjinakkan Sang Kuli” yang ditulis oleh Jan Breman. Sementara Ann Laura Stoler dalam buku Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 melaporkan sudah ada 179 kebun tembakau besar dan kecil tumbuh di Sumatera Timur pada tahun 1889.

Ribuan warga China, India, dan Jawa berbondong-bondong datang ke Medan untuk menjadi tenaga kerja penyokong industri ini. Berbagai bangsa bermukim di kota ini. Bahkan, sebelum akhir abad ke-19, Breman menulis, sering satu meja di Medan dikelilingi tujuh orang tamu yang mewakili beragam bangsa, yaitu Belanda, Prusia, Jerman, Denmark, Inggris, Polandia berkebangsaan Swiss, dan Norwegia. Jadi, jikalau saat ini kita banyak melihat penduduk kota medan yang beranekaragam suku, inilah sejarah awal kedatangannya.

Tak puas hanya melihat gedung tua ini, yang disebut dengan bangsal. Aku mencoba keliling dan betrtemu dengan salah satu kepala mandor PTPN II yaitu bapak bermarga Sinuraya. Kami berbincang dan ia menjelaskan sedikit tentang kebun Tembakau Deli ini. “Ini tanaman langka yang ada di Sumatera Utara dan harus tetap dilestarikan”. Pak Sinuraya alumni ekonomi atmajaya telah bekerja sekitar 26 tahun dan dua generasi dari keluarganya dahulu.

Saat saya duduk diluar, saya sering menghisap cerutu dan banyak orang menanyakan darimana asal cerutu tersebut. Wangi yang sangat khas menjadi daya tarik setiap orang disekitarnya. “ini cerutu dari kebun kita, warga kota medan” dan mereka pun heran kebingungan.

Benar, tak banyak orang yang mengetahui perkebunan tembakau deli saat ini. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan awal abad 20. Setidaknya ada 11.000 orang Eropa yang tinggal di Pantai Timur Sumatera yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam industri perkebunan. Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Perancis-Belgia, Swiss, Jepang, dan Jerman tercacat sudah memiliki investasi besar di Sumatera Timur pada era 1913-1932. Bangunan megah dan fasilitas publik berdiri: perkantoran, hotel, bank, kantor pos, sekolah, rumah sakit, jalan, pasar, dan stasiun kereta api. Dan kini kita masih bisa melihat bangunan-bangunan bersejarah tersebut di daerah kesawan dan jalan balai kota.

”Tembakau membuat Medan tumbuh dengan kebudayaan Eropa di dalamnya,” tutur sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari. Pertumbuhan kota memberikan dampak bagi daerah sekitarnya. Kabupaten Karo, misalnya, tumbuh menjadi sentra pertanian yang menghasilkan wortel, kacang arcis, tomat, kol, brokoli, dan berbagai sayuran, sesuai kebutuhan orang Eropa di Medan. Usahawan itu bahkan mengangkut masyarakat Bengali dari India ke Medan bersama sapinya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan susu.

Hal ini yang mengingatkanku saat jalan-jalan berkeliling ke sumatera utara yang ada perkebunan, selalu ada orang benggali yang setiap pagi membawa kaleng susu untuk dijual ke pasar. Begitu senang aku mendengarkan cerita pak Sinuraya sambil berjalan di kebun tembakau, sampai akhirnya tersadar dikala matahari mulai menyengat kulit. Bersambung

 

Share.

About Author

Leave A Reply